Sejarah

Balai RTPD Yogyakarta terletak di wilayah pedesaan yaitu dusun Piring, desa Srihardono, kecamatan Pundong, kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Balai RTPD  yang memiliki luas bangunan 15.000 m2, dilengkapi dengan asrama, ruang makan, aula, taman, poliklinik, ruang terapi, ruang keterampilan, ruang teori dan ruang olahraga beserta fasilitas lainnya yang cukup memadai untuk melangsungkan program rehabilitasi bagi penyandang disabilitas.

Suasana di Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas (Balai RTPD) sejuk, tenang dan nyaman dikarenakan letaknya yang berada di tengah pedesaan. Prosees rehabilitasi sosial, rehabilitasi medic dan bimbingan keterampilan menjadi lebih kondusif. Disamping itu lokasinya juga mudah dijangkau dan strategis. Memasuki kantor Balai RTPD, sekilas seperti masuk rumah sakit. Karena gedung ini dibangun untuk penanganan korban gempa bumi 27 Mei 2006 yang menjadi disabilitas. Lorong-lorong untuk jalan, kamar mandi dan infrastruktur yang lainnya memang didesain dan dibangun khusus agar akses untuk penyandang disabilitas. Taman yang ditanami pohon dan tanaman Bunga menambah kesejukan suasana di siang hari, sehingga udara begitu segar seperti di pegunungan terasa damai jauh dari hiruk pikuk kesibukan kehidupan masyarakat di kota.

Pada awal mulanya Balai RTPD Yogyakarta berdiri dengan nama Pusat Rehabilitasi Terpadu Penyandang Cacat (PRTPC) yang diresmikan pada tanggal 27 Mei 2009 diatas lahan bekas pabrik gula di daerah Pundong, Bantul. Pertama berdiri sebagai salah satu kegiatan Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat di Dinas Sosial DIY untuk menangani para korban gempa yang terjadi di Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 yang mengalami disabilitas permanen dari yang disabilitas ringan sampai yang berat. Oleh karena itu untuk mengakomodasi rehabilitasi bagi para korban dibangunlah PRTPC yang berlokasi di Pundong, bantul. Sebagai salah satu lokasi yang terkena dampak gempa paling parah karena termasuk dalam lingkaran pusat gempa.

Pada perkembangannya, setelah para korban gempa mendapatkan rehabilitasi, penanganan PRTPC meluas dalam menangani semua penyandang disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dinas Sosial DIY memiliki keinginan PRTPC yang tadinya merupakan suatu kegiatan di Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat menjadi sebuah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang cakupan penanganannya lebih luas. Akan tetapi peraturan pada saat itu membatasi bahwa Dinas Sosial hanya boleh memiliki 7 UPTD, sehingga harus ada satu UPTD yang dihapus. Pada saat itu UPTD yang dimiliki Dinas Sosial DIY yaitu PSAA, PSKW, PSTW, PSBR, PSBK, PSPP, dan PSBN. Dinas Sosial dengan berbagai pertimbangan, akhirnya meleburkan PSBN yang menangani penyandang disabilitas netra dengan PRTPC, mengingat bahwa kedepannya panti ini akan menangani semua penyandang disabilitas termasuk disabilitas netra sesuai dengan namanya yaitu Panti Rehabilitasi Terpadu Penyandang Cacat.

Perkembangan selanjutnya pada tahun 2011, pada saat pembahasan peraturan daerah mengenai penyandang disabilitas, nama PRTPC juga mengalami perubahan. UPTD ini diharapkan tidak hanya sekedar sebuah panti, namun juga kedepannya menjadi tempat penelitian dan pengembangan untuk program rehabilitasi penyandang disabilitas. Selain itu sesuai dengan konvensi internasional CRPD (Convention on the Right of Person with Disability) mengenai hak-hak penyandang disabilitas, untuk penyebutan nama “cacat” dirubah menjadi “disabilitas”. Oleh karena itu nama Panti Rehabilitasi Terpadu Penyandang Cacat berubah menjadi Balai Rehabilitasi Terpadu Penyandang Disabilitas.